Tidur merupakan elemen penting untuk memiliki tubuh yang sehat. Sayangnya, masih banyak orang meremehkan aktivitas ini, bahkan menganggap tidur akan mengurangi produktivitas.

Hal itu terungkap dalam survei yang diadakan oleh Royal Philips di 13 negara dan melibatkan 15.000 orang dewasa. Survei dilakukan pada orang dewasa di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Polandia, Prancis, India, China, Australia, Kolombia, Argentina, Meksiko, Brasil dan Jepang.

Survei “Better Sleep, Better Health. A Global Look at Why We’re Still Falling Short on Sleep” ini dibuat untuk mengungkap bagaimana tidur diprioritaskan, ditangani, dan dipandang, oleh populasi di negara-negara tersebut.

Hasil survei menunjukkan, mayoritas orang dewasa menganggap tidur berdampak penting bagi mereka. Namun, hanya 29 persen yang merasa bersalah karena tidak menjaga kebiasaan tidur yang baik.

Angka ini lebih rendah dibanding dengan faktor olahraga secara rutin tiga sampai empat kali seminggu (49 persen) dan menjaga pola makan (42 persen), sebagai bagian dari gaya hidup.

Sekitar 61 persen responden mengakui memiliki masalah tidur, antara lain insomnia (26 persen), mendengkur (21 persen), sering terjaga di malam hari (58 persen) karena kecemasan dan distraksi teknologi.

Chief Medial Officer Philips Sleep & Respirotary Care, Dr.David White, mengatakan, tidur yang tidak memadai bisa berdampak langsung pada kesehatan kita, tidak seperti olahraga atau diet.

“Survei ini menunjukkan bahwa walaupun mengetahui bahwa tidur itu penting untuk kesehatan secara keseluruhan, banyak orang masih belum memprioritaskannya ketimbang berolahraga atau mengkonsumsi makanan sehat,” katanya dalam siaran pers.

Ia mengatakan, semakin kita mengerti bagaimana dampak tidur pada segala hal yang kita lakukan, semakin baik kita menyesuaikan gaya hidup dan menemukan solusi yang membantu kita tidur dengan lebih baik.

Dampak dari kurang tidur yang dialami para responden antara lain rasa lelah, murung dan mudah marah, tidak bersemangat, dan mengalami kesulitan konsentrasi.

Walau demikian, para responden mengatakan mencoba memperbaiki tidur mereka dengan cara tertentu. Yang paling banyak adalah mencoba mendengarkan musik yang menenangkan dan mengatur jadwal tidur atau bangun.

Setiap negara memiliki metode berbeda-beda. Misalnya saja di Indonesia, mayoritas (45 persen) memilih melakukan meditasi untuk bisa tidur nenyak, sementara di Polandia dan Tiongkok memilih meningkatkan kualitas udara di rumah mereka.

Generasi muda, yaitu mereka yang berusia 18-24 tahun memiliki pandangan berbeda mengenai tidur. Meski cenderung tidak memiliki jam tidur yang teratur dibanding generasi yang lebih tua, tapi kelompok ini rata-rata tidur lebih banyak setiap malam.

Selain itu, dibanding kelompok responden berusia di atas 35 tahun, orang muda ini juga cenderung merasa bersalah jika tidak secara teratur menjaga pola tidur yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website